Setidaknya sejak satu dasawarsa terakhir ini, Indonesia menyaksikan tumbuhnya paham keagamaan ekstrem bernuansa kekerasan dan radikalisme. Kecenderungan ini ditandai dengan terjadinya sejumlah serangan teroris di berbagai tempat di negeri ini. Konflik kekerasan yang berhubungan dengan kekerasan berbasis agama dan intolerani juga terus meningkat. Dengan lebih dari 200 kasus kekerasan berbasis agama setiao tahunnya, isu violent extremism bisa dibilang masih menjadi maslaah serius bagi masyarakat dan pemerintah Indonesia. Sejumlah faktor ditengarai menjadi penyebab yang menyumbangkan tumbuhnya kecenderungan pandangan keagamaan yang intoleran dan radikal. Salah satu yang paling langsung adalah tidak adanya dorongan untuk menggunakan perangkat kelembagaan sekolah khususnya peran OSIS untuk melibatkan diri dalam upaya yang sistematis dan berkelanjutan untuk membendung radikalisme di sekolah. Melalui kekuatan OSIS dan program kreatif yang diciptakan, sekolah juga belum terdorong untuk mengimplementasikan sejumlah kebijakan tentang OSIS yang boleh jadi sangat efektif menangkal bahaya radikalisme dan intoleransi di sekolah. Buku ini bisa dikatakan sebagai upaya merekam hasil penelitian yang dilakukan dan praktik terbaik pengelolaan OSIS di sekolah. Dari hasil penelitian tersebut, ditemukan bahwa potensi tumbuhnya pandangan keagamaan yang intoleran dilingkungan siswa sekolah sungguh ada. Meski demikian, di beberapa sekolah menunjukkan adanya peran dari kelompok moderat seperti kelpmok siswa sekolah yang tergabung dalam organisasi civil society semisal NU dan Muhammadiyah terhadap infiltrasi yang dilakukan oleh kelompok radikal.

Share To:
Next
This is the most recent post.
Previous
Older Post

Nurul Shoimah

Post A Comment: