Top Books


Setidaknya sejak satu dasawarsa terakhir ini, Indonesia menyaksikan tumbuhnya paham keagamaan ekstrem bernuansa kekerasan dan radikalisme. Kecenderungan ini ditandai dengan terjadinya sejumlah serangan teroris di berbagai tempat di negeri ini. Konflik kekerasan yang berhubungan dengan kekerasan berbasis agama dan intolerani juga terus meningkat. Dengan lebih dari 200 kasus kekerasan berbasis agama setiao tahunnya, isu violent extremism bisa dibilang masih menjadi maslaah serius bagi masyarakat dan pemerintah Indonesia. Sejumlah faktor ditengarai menjadi penyebab yang menyumbangkan tumbuhnya kecenderungan pandangan keagamaan yang intoleran dan radikal. Salah satu yang paling langsung adalah tidak adanya dorongan untuk menggunakan perangkat kelembagaan sekolah khususnya peran OSIS untuk melibatkan diri dalam upaya yang sistematis dan berkelanjutan untuk membendung radikalisme di sekolah. Melalui kekuatan OSIS dan program kreatif yang diciptakan, sekolah juga belum terdorong untuk mengimplementasikan sejumlah kebijakan tentang OSIS yang boleh jadi sangat efektif menangkal bahaya radikalisme dan intoleransi di sekolah. Buku ini bisa dikatakan sebagai upaya merekam hasil penelitian yang dilakukan dan praktik terbaik pengelolaan OSIS di sekolah. Dari hasil penelitian tersebut, ditemukan bahwa potensi tumbuhnya pandangan keagamaan yang intoleran dilingkungan siswa sekolah sungguh ada. Meski demikian, di beberapa sekolah menunjukkan adanya peran dari kelompok moderat seperti kelpmok siswa sekolah yang tergabung dalam organisasi civil society semisal NU dan Muhammadiyah terhadap infiltrasi yang dilakukan oleh kelompok radikal.


Nabi sangat menghormati kebebasan beragama semua penduduk Madinah. Maka jika pada saat Revolusi Perancis 1789 dikenal 3 kredo, yakni kebebasan, persamaan dan persaudaraan. Maka Islam sudah sejak lama mengamalkan 3 kredo tersebut di periode Madinah. Bukan sekedar lip service belaka, melainkan benar-benar diwujudkan dalam kehidupan masyarakat secara konkret. Kita berharap bahwa umat Islam zaman sekarang. khususnya di Indonesia dapat meneladani apa yang telah dipraktikkan Nabi dan para sahabatnya. Salah satu caranya adalah memahami secara benar semua ajaran Islam yang terkandung dalam sumber utama yakni al-quran dan al-hadist, serta rujukan otoritatif karya ulama al-salaf al-shalih, bukan hanya secara tekstual melainkan juga kontekstual. Dengan demikian, pemahaman kita tidak sekedar pemahaman yang harfiah. Buku ini sesungguhnya berusaha menyajikan Islam yang seperti dipraktikkan Nabi dan para sahabat yang penuh misi damai dan toleransi. Islam yang berusaha menampilkan keramahan bukan kemarahan.


Milenial Islami adalah program yang ditujukan bagi generasi milenial usia 15-25 tahun, atau yang duduk di bangku SMA/sederajat serta mahasiswa untuk mendapatkan pengetahuan keislaman yang moderat dan sejuk, serta mengedepankan nilai kebangsaan yang sejak lama menjadi fondasi bagi keutuhan Indonesia. Ada tiga hal yang sedang dilakukan oleh Milenial Islami: Kompetisi pembuatan video, essay, foto, komik dan meme sekaligus workshop bagi para finalis kompetisi. Membuat konten online seperti video, artikel dan meme bertemakan Islam yang moderat, sejuk dan bernuansa kebangsaan. Talkshow ke sejumlah sekolah, kampus, pesantren dengan mengundang sejumlah narasumber yang memberikan pengetahuan serta berdiskusi mengenai Islam sejuk. Buku ini adalah kumpulan karya para finalis kompetisi Milenial Islami yang berlangsung November 2017. Mereka adalah anak-anak muda kreatif dari segala penjuru tanah air yang memiliki filosofi Islam sejuk, dan akan terus ikut membanjiri dunia online kita dengan konten ajakan perdamaian.


Dalam situasi serba tidak pasti generasi milenial harus berhadapan langsung dengan ekspansi ideologis Islamis yang datang menawarkan harapan dan mimpi tentang perubahan. Dibangun di atas narasi yang menekankan pentingnya semangat kembali kepada dasar-dasar fundamental Islam dan keteladanan generasi awal, mereka berusaha membuat jarak dan demarkasi antara Islam dengan dunia terbuka yang digambarkan penuh dosa bid'ah, syirik dan kekafiran. Kegagalan melakukan hal ini dipandang sebagai hal utama yang bertanggunjawab di balik keterpurukan umat Islam berhadapan dengan dominasi politik, ekonomi dan budaya sekular Barat. Khilafah didengungkan sebagai kunci untuk mengembalikan kejayaan Islam. Meskipun bersifat utopis, ideologi ISlamis ternyata memiliki daya tarik terutama karena kemampuannya menawarkan pembaca yang 'koheren' dan 'solutif' atas berbagai persoalan kekinian serta mengartikulasi rasa ketidakadilan dan membingkai semangat perlawanan terhadap kemapanan.




Program ekonomi bagi kaum muda memiliki peran strategis dalam mengatasi radikalisme. Pemerintah, masyarakat sipil dan ormas agama memiliki kontribusi penting dalam aktivitas dan pemberdayaan ekonomi kaum muda termasuk mereka mantan napi teroris, mantan kombatan dan kaum muda yang potensial menjadi target gerakan terorisme dan radikalisme. Program ekonomi juga memperkuat nasionalisme dan pertahanan sosial keamanan di daerah perbatasan. Program dan kegiatan ekonomi bagi kaum muda dan para mantan narapidana teroris dan mantan kombatan akan memperkuat kepercayaan diri mereka dalam membangun kemandirian, memberi ruang dalam proses pelepasan dari kelompok teroris dan masa lalu kekerasan serta reintegrasi di masyarakat. Buku ini berdasarkan penelitian lapangan melalui wawancara mendalam tentang lebih dari 100 responden (mahasiswa, aktivis kaum muda, ormas, pemerintah daerah, kepala dinas, pengusaha lokal, lembaga pendidikan), FGD dan analisis dokumen di Nunukan (Kalimantan Utara), Poso (Sulawesi Tengah), Solo (Jawa Tengah), Lamongan (Jawa TImur) dan Medan (Sumatera Utara).


Ancaman terorisme, radikalisme dan ekstremisme kekerasan yang dewasa ini kian kompleks memerlukan pendekatan baru yang lebih inklusif, holistik dan mengedepankan pencegahan daripada perlawanan yang selama ini berparadigma keamanan. Dalam rangka mempromosikan strategi berpendekatan perdamaian positif, buku hasil penelitian ini dimaksudkan untuk membantu meningkatkan pemahaman berbasis data terbaru hasil riset (evidence-based knowledge) tentang pergumulan dan kontestasi wacana keislaman Indonesia di dunia maya dan menyediakan pijakan alternatif bagi para perumus kebijakan, praktisi dan profesional dalam merespon fenomena sosial kegamaan di Indonesia. Temuan penelitian ini antara lain bahwa website ormas Islam arus utama, yatiu Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah mewartakan pesan damai Islam seperti menghormati kebhinekaan, mendorong kerukunan antar iman dan keadilan sosial, mendukung Pancasila dan menjaga NKRI. Manun kedua ormas moderat ini tidak menjadi rujukan populer oleh pengguna media sosial, terutama dari generasi Y dan Z. Sementara itu, organisasi Islam kontemporer seperti Hidayatullah, Dewan Dakwah dan yang lain kurang menyuarakan pesan moderasi serupa melalui web mereka.



Buku ini mencoba menyajikan secara sistematis berbagai temuan survei "sikap keberagaman siswa dan mahasiswa di Indoneisa" yang mengindikasikan adanya kegalauan identitas kegamaan pada generasi muda. Siswa dan mahasiswa memiliki opini islamisme namun di sisi lain ia bisa menampilkan perilaku yang tidak mendukung opini islamisme-nya. Mereka setuju Pancasila dan UUD 1945 namun mereka ingin syariah Islam diterapka di negara Indonesia. Mereka setuju bahwa Pendidikan Agama Islam memengaruhi mereka untuk bersika intoleran pada kelompok agama Islam yang dianggap sesat. Namun mereka setuju bahwa PAI harus mengajarkan tentang agama lain, kelompok lain dan keberagaman yang ada di Indonesia. Mereka setuju bahwa OSIS adalah organisasi yang demokratis dan bisa dimiliki oleh siapapun terlepas adanya perbedaan agama, suku, ras dan golongan.


Program Lombok Youth Camp for Peace Leader merupakan ajang untuk mempertemukan 200 orang mahasiswa PTKI se Indonesia guna mendiskusikan tentang bahaya kekerasan, terorisme dan ekstrimisme yang belakangan ini banyak terjadi di Indonesia. Kegiatan yang merupakan kerjasama antara NC Mataram dengan Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) UIN Jakarta dan UNDP (United Nation Development Program) ini dihajatkan untuk menggembleng agen-agen bina damai di kalangan pemuda atau mahasiswa. Aksi kekerasan, radikalisasi, terorisme dan ekstrimisme di Indonesia mengalami kecenderungan peningkatan. Lebih dari 200 kasus kekerasan berbasis agama setiap tahunnya terjadi, hal ini ditandai oleh meningkatnya kelompok yang melakukan aksi radikalisasi dan ekstrimisme, semuanya selain tersebar di berbagai wilayah Indonesia seperti di Sulawesi, Sumatra, Aceh, Maluku, Bima Lombok, dsb. Buku ini hadir untuk memfasilitasi kreatifitas dan produktifitas peserta Youth Camp yang "berserakan" sehingga bisa tersusun rapi dalam satu buku Antologi essai agar bisa dibaca oleh kalangan lebih luas lagi.

Massifnya interaksi dan komunikasi digital antara warga telah menciptakan kesan dualisme antara dunia nyata dan dunia maya, sehingga sulit mengenali dengan baik batas-batas yang tegas antara wacana di dunia maya dan realitas sosial di dunia nyata. Gejala kehidupan milenial yang kompleks ini melibatkan aktor sosial yang paling dominan, yaitu kalangan muda yang bukan hanya melek teknologi, tapi alam pikirnya sulit dilepaskan dari ontologi dan epistemologi digital. Mereka secara populer disebut anak muda zaman now. Gejala yang disebut buku ini dengan hibridasi identitas memungkinkan mereka terbuka terhadap berbagai sumber informasi yang tersedia, manun di saat yang sama dituntut untuk menemukan pijakan agar tidak kehilangan arah. Di satu sisi, keterbukaan terhadap ragam informasi membantu proses moderasi keagamaan di kalangan muda muslim Indonesia, namun di sisi lain keterbukaan yang sama dapat menempatkan mereka dalam posisi yang rentan terhadap intoleransi dan bahkan radikalisme keagamaan.


Sebelum memahami perihal "program nondrama" dan "program televisi" secara keseluruhan, terlebih dahulu perlu mengetahui standar penyiaran televisi yang berlaku di seluruh dunia. Hal ini penting karena terknologi penyiaran yang digunakan di suatu negara berbeda satu dengan lainnya. Standar penyiaran yang dimaksud berhubungan dengan peralatan teknologi yang digunakan dalam penyiaran. Misalnya, kamera video yang digunakan di Jepang berbeda dengan kamera video yang digunakan di Indonesia, Perancis dan beberapa negara di Afrika. Demikian pula halnya dengan teknologi transmisi yang digunakan. Penulisan buku ini membahas mengenai produksi siaran televisi, yang diperkaya dengan public relations dan iklan televisi. Hal ini penting, karena suatu program televisi akan selalu berhubungan dengan public relations untuk menjalin hubungan komunikasi dengan khalayak dan iklan yang membiayai produksi program acara tersebut. Referensi penting untuk kajian kepenyiaran ini secara khusus menyajikan dan mengulas berbagai topik utama perihal: kreatif, produksi, public relations dan iklan pada siaran televisi  non drama. Diantara tema utama tersebut, yakni: program siaran televisi; tujuan, kekuatan dan strategi program; kreatif program non drama; satuan kerja; pengisi acara; sistem produksi program non drama; tata gambar; cahaya dan suara; public relations dan iklan televisi.Buku ini dapat memberikan tambahan ilmu pengetahuan tentang "siaran televisi non drama" untuk pembaca pada umumnya, serta bisa digunakan sebagai referensi penting dalam kajian studi ilmu komunikasi dan kepenyiaran pada mata kuliah siaran televisi.

Hadis adalah semua hal yang diwariskan dari Nabi Muhammad SAW, baik berupa perkataan, perbuatan, pengakuan ataupun sifat-sifat beliau, baik sifat fisik maupun keluhuran budi pekerti. Hal itu mencakup juga sejarah, baik sebelum beliau diutus Allah menjadi Nabi, ataupun sesudahnya. Buku ini dikhususkan bagi mahasiswa perguruan tinggi yang mempelajari ilmu hadis sebagai kajian akadmeis. Pembahasan penting yang terkandung di dalam buku ini antara lain adalah kerangka filosofis ilmu hadis, landasan epistemologi ilmu hadis, kedudukan sunnah, misi kerasulan, kewahyuan sunnah, batasan makna hadis, kerangka umum fiqh al-hadits, cakupan makna hadis dirayah, hadis musykil, metode penyelesaian hadis musykil dan kaidah pendukung seperti asbab al-wurud, jawami' al-kalim, ta'awwul al-Qur'an, tafsir mawdhu'i dan ikhtilaf antara hadis qawliyyah dan fi'liyyah.

Telaah dalam buku ini difokuskan pada ilmu jarh (celaan) dan ta'dil (pujian), suatu ilmu yang menjadi inti yang digunakan para kritikus sanad hadis, sehingga martabat hadis berbeda satu sama lain. Ada hadis yang disbeut hadis sahih, hasan dan dhaif dengan berbagai tingkatannya, bermuara pada ilmu jarh dan ta'dil, serta periwatannya. Hadis, dilihat dari aspek kualitas dan kuantitas perawi mesti ada kritik-kritik tertentu dari ulama lainnya. Dengan demikian, para mujtahid dapat menetapkan bahwa martabat hadis adalah hasil ijtihad. Produk ijtihad ini tentu dengan menggunakan approach (pendekatan), metode dan teknik yang digunakan oleh ahli hadis sendiri. Ahli hadis bagaikan apoteker, sementara fukaha adalah dokter yang memerlukan hadis (sebagai dalil agama). Dalam buku ini dimuat pemetaan terhadap jarh dan ta'dil itu sendiri, sehingga memudahkan kepada siapa pun untuk mempelajarinya.

Reformasi telah membawa perubahan baru dalam politik Indonesia menjadi lebih dinamis. Hak-hak individu makin dihargai dan mengedepan dalam setiap pengambilan kebijakan. Karena itu kajian opini publik dan kebebasan menyatakan pendapat memperoleh porsi dalam studi komunikasi politik. Demikian juga tuntutan untuk dilakukan pemilihan langsung pada jabatan publik seperti pemilihan presiden, gubernur dan bupati/walikota makin diapresiasi dan ditindaklanjuti. Kampanye politik menjadi makin marak dengan segala macam kreasi dalam merebut simpati pemilih. Para kandidat berbenah diri tampil dalam sosok yang dekat dengan rakyat, menawarkan program dan janji-janji bahkan dalam bentuk uang yang kontraproduktif dengan etika dan cita-cita luhur demokrasi.
Jika komunikasi politik awalnya didominasi media mainstream seperti surat kabar, radio dan televisi yang dikenal selama ini, kini sudah merambah pada penggunaan media sosial yang makin trend. Bahkan lebih jauh kebebasan pada gilirannya melahirkan radikalisme yang diwujudkan dalam bentuk terorisme yang berbasis ideologi politik dengan segala jaringan komunikasinya. Buku ini bertujuan untuk mengisi kelangkaan buku teks di perguruan tinggi sebagai materi pembelajaran untuk mahasiswa program S1 dan S2 di bidang komunikasi, politik, sosiologi, pemerintahan, hubungan internasional dan hukum tata negara, juga dimaksudkan sebagai bahan bacaan bagi politisi, pengamat politik, petugas public relations serta masyarakat pihak terkait dengan kegiatan pemilu dan pilkada.

Pemahaman tentang pengembangan profesionalitas konselor atau guru bimbingan dan konseling merupakan hal yang sangat diperlukan, mengingat kedudukan konselor atau guru bimbingan dan konseling merupakan pendidik profesional yang bertugas memberikan layanan ahli dalam bimbingan dan konseling. Bentuk layanan ahli tersebut harus dilandasi oleh penguasaan kompetensi akademik dan kompetensi profesional konselor atau guru bimbingan dan konseling. Untuk mencapai profesionalitas tersebut, maka paradigma pembahasan yang digunakan dalam buku ini mengacu pada pandangan psikologi positif yang memandang manusia dari perspektif kelebihannya, bukan dari kekurangannya. Selain uraian tentang kesehatan mental, buku ini menjelaskan pulan kondisi kesehatan dan berbagai intervensi yang harus dilakukan oleh konselor atau guru bimbingan dan konseling dengan perspektif psikologi positif dan bimbingan konsleing komprehensif.